This site uses cookies.
Some of these cookies are essential to the operation of the site,
while others help to improve your experience by providing insights into how the site is being used.
For more information, please see the ProZ.com privacy policy.
VIA AILooking for an interpreter?
Remoto by ProZ.com connects you with an identity-verified interpreter by video or phone in about 60 seconds — 300+ languages, on demand or booked ahead.
Try Remoto »
Bahasa digunakan:
Bahasa Malaysia hingga Bahasa Inggeris Bahasa Inggeris hingga Bahasa Malaysia
Client-vendor relationship recorded successfully!
Salina Salleh has been added to your list of hired vendors.
This person has a SecurePRO™ card. Because this person is not a ProZ.com Plus subscriber, to view his or her SecurePRO™ card you must be a ProZ.com Business member or Plus subscriber.
Gabungan
This person is not affiliated with any business or Blue Board record at ProZ.com.
Open to considering volunteer work for registered non-profit organizations
Kadar
General rate: 0.12 USD per word / 45 USD per hour
Rates per language pair: Bahasa Malaysia hingga Bahasa Inggeris - Kadar standard: 0.12 USD setiap perkataan / 45 USD sejam Bahasa Inggeris hingga Bahasa Malaysia - Kadar standard: 0.12 USD setiap perkataan / 45 USD sejam
Bahasa Indonesia hingga Bahasa Malaysia: Semua orang memiliki titik start yang sama General field: Lain-lain Detailed field: Lain
Teks sumber - Bahasa Indonesia Tugasan Bahasa Indonesia
Tajuk Buku: Bicara Itu Ada Seninya
Penulis: Oh Su Hyang
Penterjemah bahasa Indonesia: Asti Ningsih
Semua Orang Memiliki Titik Start yang Sama
• Cara Bicara Pembawa Acara Level Nasional
Setiap orang Korea pasti akan teringat Yoo Jae Suk jika mendengar kata MC atau
pembawa acara. la mampu memukau mata banyak penonton dengan kelihaian dalam
membawakan beragam program hiburan. Dari programnya saja, kita bisa tahu mengapa
ia bisa menjadi pembawa acara terbaik di Korea. Berbeda dengan pembawa acara
lainnya, kelebihannya adalah bisa membuat bintang tamu merasa nyaman. la tidak
pernah berdiri di depan lalu banyak bicara. Kemampuannya sangat luar biasa dalam
berkata seperlunya di waktu dan tempat yang tepat. Ditambah lagi, suaranya yang agak
tinggi sangat cocok dengan program hiburan. Suara tinggi lebih cocok daripada suara
rendah dalam siaran yang dinamis dan penuh canda tawa. Oleh karena itu, suaranya
enak didengar. DJ radio sekaligus narator Jepang, Aso Kentaro berkata,
"Suaranya yang enak didengar adalah memesona. Suara seperti ini tidak
berhubungan sama sekali dengan titian nada. Baik parau ataupun bernada sangat tinggi,
jika suara itu memiliki daya tarik khusus, orang-orang dengan sendirinya mendengarkan
ucapannya."
Itulah rahasia kehebatan pembawa acara Yoo Jae Suk dalam berbicara,
"komunikatif. la bisa menjadi pembawa acara terbaik dengan komunikasi yang baik. la
memiliki sepuluh aturan komunikasi yang dibuatnya berdasarkan pengalaman-
pengalamannya di dunia siaran. Ini merupakan pengetahuan umum bagi mereka yang
tertarik dengan speaking dan komunikasi.
Sepuluh Aturan Komunikasi
1. Kata-kata yang tidak bisa diucapkan di "depan", jangan dikatakan di "belakang".
Gunjingan sangatlah buruk.
2. Memonopoli pembicaraan akan memperbanyak musuh. Sedikit berbicara dan
perbanyak mendengar. Semakin banyak mendengar akan semakin baik.
3. Semakin tinggi intonasi suara, makna dari ucapan akan semakin terdistorsi.
Jangan menggebu-gebu. Suara yang rendah justru memiliki daya.
4. Berkata yang menenangkan hati, bukan sekadar enak didengar.
5. Katakan yang ingin didengar lawan bicara, bukan yang ingin diutarakan. Berbicara
yang mudah dimengerti, bukan yang mudah diucapkan.
6. Berbicara dengan menutupi aib dan sering memuji.
7. Berbicara hal-hal yang menyenangkan, bukan yang menyebalkan.
8. Jangan hanya berkata dengan lidah, tetapi juga dengan mata dan ekspresi. Unsur
non-verbal lebih kuat daripada unsur verbal.
9. Tiga puluh detik di bibir sama dengan tiga puluh tahun di hati. Sepatah kata yang
kita ucapkan mungkin saja akan mengubah kehidupan seseorang.
10.Kita mengendalikan lidah, tapi ucapan yang keluar akan mengendalikan kita.
Jangan berbicara sembarangan dan ber- tanggung jawablah terhadap apa yang
sudah Anda ucapkan.
Kita akan tersadar bahwa ia benar-benar pakar komunikasi. Kita juga bisa
mengetahui alasan kesuksesannya dalam berbicara. Namun, apakah kemahirannya ini
merupakan bawaan lahir? Apakah Yoo Jae Sook sejak awal sudah memiliki keterampilan
berbicara yang mumpuni?
Tidak. la yang sekarang sangat jauh berbeda pada saat awal debutnya. Saat
menjadi reporter untuk acara Entertainment Weekly, ia masih berusia 20-an berkali-kali
gagap dalam berbicara. la tidak bisa siaran dengan benar karena sangat gugup. Bahka, ia
sampai mengucapkan minta maaf. Lalu, ia Juga dikeluarkan dari acara tersebut.
Sekarang siapa yang dapat mengingat dirinya pada masa itu? Saya sangat tahu
masa lalunya. Oleh karena itu, saya selalu mengatakan kepada mereka yang meminta
saran.
"Pembawa acara sekelas Yoo Jae Suk pun dulunya tidak jago berbicara sampai
harus dikeluarkan dari sebuah acara. Kemampuan bicaranya lebih rendah daripada artis
lainnya.
Namun, ia mampu mengatasi masalah yang ada pada dirinya dan berdiri di posisinya
sekarang. Jadi, jangan marah atau mengeluh karena kemampuan bicara Anda rendah
dan suara Anda tidak bagus. Anda pun dapat mengubah diri Anda menjadi lebih baik
selagi Anda mau berusaha."
Kemampuan Bicara Bukanlah Bawaan Lahir
Kemampuan bicara seseorang sebagian besar ditentukan saat masih kecil. Jadi bukan
bawaan lahir sejak dalam kandungan ibu. Sehingga, pengaruh apa yang diperoleh dari
orangtua saat masih kecil sangatlah penting. Orang yang pandai berbicara bisa dibilang
mendapat pengaruh yang baik dari orangtuanya. Orangtua yang memberi pengaruh baik
pada anaknya membiasakan diri berbicara yang baik untuk diteladani. Mereka
mengajarkan dengan telaten berbagai bentuk ungkapan dan mendorong anaknya agar
bisa menyampaikan idenya dengan tepat.
"Saat berbicara, tatap mata lawan bicara."
"Saat berbicara, selalu pikirkan posisi lawan bicara."
"Lawan bicara tidak akan mengerti bila kita berbicara terlalu cepat. Karena itu,
pelan-pelan saja."
Sebaliknya, orangtua yang tidak bisa berbicara dengan baik memberi pengaruh
buruk pada anaknya. la berbicara terbata bata, berbicara sekenanya kepada lawan
bicara, dan tidak bisa mengungkapkan sesuatu dengan tepat. Biasanya mereka berkata
seperti kepada anak-anaknya.
"Kenapa kamu kalau bicara ujungnya selalu menggantung?"
"Kami tidak perlu mendengarkan ucapanmu."
"Kamu benar-benar bodoh dalam berbicara."
Ketidakcakapan mereka dalam bicara yang terbentuk sejak kecil dapat dikatakan
menjadi batu sandungan dalam kehidupan sosial mereka. Satu hal yang selalu saya
tekankan kepada mereka. Tidak ada orang yang terlahir mahir berbicara. Saya juga
menjelaskan bahwa kemampuan berbicara ditentukan oleh lingkungan keluarga saat ia
tumbuh. Sehingga penyebab seseorang tidak bisa berbicara dengan baik adalah dari
kebiasaan buruk, yang harus diatasi dengan membuangnya.
Semua orang memiliki titik awal yang sama dalam berbicara. Ada yang maju lebih
dulu dan ada yang tertinggal di belakang. Namun, jangan lupa bahwa urutan bisa
berubah dengan usaha dan membuang kebiasaan, sebagaimana Yoo Jae Suk.
Terjemahan - Bahasa Malaysia Tajuk buku: Bercakap dengan adab
Penulis: Oh Su Hyang
Penterjemah bahasa Indonesia: Asti Ningsih
Penterjemah bahasa Melayu : Salina binti Salleh
Setiap orang mempunyai titik permulaan yang sama
Bagaimana pengacara bertaraf nasional bertutur
Setiap warga Korea pasti mengingati Yoo Jae Suk jika menjadi hos atau pengacara. Beliau
mampu memukau mata ramai penonton dengan kepintarannya mengacara pelbagai program
hiburan. Dari program kendaliannya, kita mengetahui mengapa beliau menjadi pengacara terbaik
di Korea. Berbeza dengan pengacara yang lain, kelebihan beliau adalah boleh membuatkan
tetamu undangannya berasa selesa. Beliau tidak pernah berdiri di hadapan sambil banyak
bercakap. Kemampuannya yang petah berkata-kata bersesuaian dengan masa dan tempat.
Tambahan lagi, suaranya yang agak tinggi sangat sesuai dengan program hiburan. Suara tinggi
lebih sesuai berbanding suara rendah bagi siaran yang dinamik dan penuh gelak ketawa. Oleh
sebab itu, suaranya sedap didengar. DJ radio dan juga narator Jepun, Aso Kentaro berkata,
"Suaranya yang sedap didengar begitu mempesonakan. Suaranya umpama tidak
bersambungan langsung dengan tonasi nada. Sama ada serak atau bernada sangat tinggi, jika
suara itu mempunyai tarikan istimewa, penonton secara semula jadi mendengar pengucapannya."
Itulah rahsia kehebatan pengacara Yoo Jae Suk bertutur, "komunikatif". Beliau boleh
menjadi pengacara terbaik dengan komunikasi yang bagus. Beliau mempunyai sepuluh peraturan
komunikasi sendiri berdasarkan pengalamannya dalam dunia penyiaran. Ini merupakan
pengetahuan umum bagi mereka yang berminat dalam pengucapan dan komunikasi.
Sepuluh Peraturan Komunikasi
1. Perkataan yang tidak boleh diungkapkan di "hadapan", jangan diungkapkan di "sebaliknya".
Bergosip amatlah teruk.
2. Menguasai percakapan akan membuatkan ketidakpuasan hati orang lain. Kurangkan bercakap
dan banyakkan mendengar. Semakin banyak mendengar, lebih baik.
3. Semakin tinggi intonasi suara, semakin memutarbelitkan maksud ucapan. Jangan terlampau
bersemangat. Suara rendah sebenarnya memiliki daya tarikan.
4. Bercakap perkara-perkara yang menyenangkan hati, bukan sekadar menyedapkan telinga.
5. Mengungkapkan sesuatu yang ingin didengar oleh pengantara, bukan apa yang ingin
dibangkitkan Bercakap yang senang difahami, bukan sekadar mudah diungkapkan.
6. Bercakap tanpa membuka aib dan kerap memberi pujian.
1
7. Bercakap perkara yang menyeronokkan, bukan yang menjengkelkan.
8. Jangan sekadar bercakap dengan lidah, tetapi juga dengan mata dan ekspresi anda. Elemen
bukan lisan lebih kuat daripada elemen lisan.
9. Tiga puluh saat di bibir bersamaan dengan tiga puluh tahun di hati sanubari. Sepatah perkataan
yang kita ungkapkan mungkin akan mengubah kehidupan seseorang.
10. Kita mengawal lidah kita, tetapi ungkapan yang keluar akan mengawal kita. Jangan bercakap
sembarangan dan bertanggungjawab terhadap apa yang kita ungkapkan.
Kita akan menyedari bahawa beliau adalah seorang pakar komunikasi. Kita juga dapat
mengetahui faktor-faktor kejayaannya dalam berkomunikasi. Namun begitu, adakah
kemahirannya wujud sejak lahir? Apakah Yoo Jae Sook seawalnya telah mempunyai personaliti
percakapan yang berkelayakan?
Tidak. Beliau kini sangat berbeza berbanding pada awal kemunculannya. Ketika menjadi
wartawan untuk program Entertainment Weekly, beliau masih berusia 20-an dan sering kali
tergagap-gagap apabila bercakap. Beliau tidak dapat bersiaran secara langsung kerana sangat
gementar. Malahan, beliau terpaksa memohon maaf kemudian disingkirkan daripada
mengacarakan acara tersebut.
Sekarang siapa yang boleh mengingati dirinya pada masa itu? Saya sangat mengetahui
masa lampaunya. Oleh sebab itu, saya sering memberitahu kepada sesiapa yang meminta saranan.
"Pengacara setaraf Yoo Jae Suk juga dahulunya tidak petah bercakap sehingga terpaksa
disingkirkan daripada sebuah acara. Kemampuannya bercakap lebih rendah berbanding dengan
artis-artis lain.
Namun, beliau mampu mengatasi masalah pada dirinya dan berada di kedudukannya
sekarang. Maka, jangan marah atau mengeluh kerana kemampuan percakapan anda rendah dan
suara tidak baik. Anda mampu mengubah diri anda menjadi lebih baik selagi anda mahu
berusaha.
Keupayaan untuk bercakap tidak semula jadi
Keupayaan pertuturan seseorang sebahagian besarnya ditentukan ketika masih kecil, bukan
kongenital yang dilahirkan dalam rahim ibu. Oleh itu, pengaruh yang diperolehi dari ibu bapa
ketika masih kecil adalah sangat penting. Orang yang pandai bercakap boleh dikatakan
mempunyai pengaruh yang baik dari ibu bapa mereka. Ibu bapa yang menunjukkan pengaruh
yang baik terhadap anak-anak mereka terbiasa bercakap yang elok untuk dijadikan tauladan.
Mereka mengajar engan teliti pelbagai bentuk ekspresi dan menggalakkan anak-anak mereka
untuk menyampaikan idea mereka dengan betul.
"Semasa bercakap, mata bertentangan dengan pengantara."
"Semasa bercakap, selalu berfikir tentang kedudukan pengantara."
"Pengantara tidak akan memahami jika kita bercakap terlalu pantas. Oleh itu perlahankan
sahaja."
2
Sebaliknya, ibu bapa yang tidak dapat bercakap dengan baik mempengaruhi tidak elok
kepada anak-anak mereka. Dia tergagap-gagap, bercakap sebaik sahaja dia mula bertutur dengan
orang lain, dan tidak dapat menyatakan sesuatu dengan tepat. Biasanya mereka berkata-kata
seperti dengan anak-anak mereka.
"Mengapa anda bercakap pengakhirannya selalu tergantung?"
"Kami tidak perlu mendengar apa yang anda katakan."
"Kamu benar-benar tidak arif berkata-kata."
Ketidakcekapan mereka dalam ucapan yang terbentuk sejak zaman kanak-kanak boleh
dikatakan sebagai batu penghalang dalam kehidupan sosial mereka. Satu perkara yang selalu saya
tekankan kepada mereka adalah tiada siapa yang dilahirkan mahir dalam ucapan. Saya juga
menjelaskan bahawa keupayaan untuk bercakap ditentukan oleh persekitaran keluarga ketika dia
membesar. Jadi punca seseorang tidak dapat bercakap dengan baik adalah dari tabiat buruk, yang
mesti diatasi dengan membuangnya.
Setiap orang mempunyai titik permulaan yang sama dalam bercakap. Ada yang tampil
dahulu dan ada yang ketinggalan. Walau bagaimanapun, jangan lupa bahawa pesanan itu boleh
berubah seiring dengan usaha dan membuang tabiat, seperti mana Yoo Jae Suk.
TAMAT
Bahasa Inggeris hingga Bahasa Malaysia: How to talk so little kids will listen General field: Lain-lain Detailed field: Lain
Teks sumber - Bahasa Inggeris Book title: How To Talk So Little Kids Will Listen
Author: Mark Manson
Chapter Two:
Tools for Engaging Cooperation . . . Feelings Schmeelings, She Has to Brush Her Teeth
• Getting kids to do what they have to do
Joanna
Enough with all the talk about feelings. It’s lovely to know we’re enhancing our children’s
confidence and sense of self, but does that actually get us through the day? Not entirely.
We have to get our kids to do things—get in the bathtub; brush teeth; sit still so I can get
your shoes on; climb into the carseat . . . now, or we’re going to be late; go to bed, PLEASE!
And sometimes, it’s more important to not do things—don’t hit your sister; stop
throwing your food; don’t take those shoes off when I just got them on; don’t stick your
fork in the electrical outlet; don’t eat the lollipop that just fell in the dirt; stop pulling the
dog’s tail; don’t climb the refrigerator—those are shelves, not steps. Endless reminding,
nagging, cajoling, demanding. That’s the reality of being a parent.
So our kids get told what to do. All day long. That’s the reality of being a kid. And
they should listen, because we’re in charge and we’re just trying to do what’s best for
them, and keep them from killing themselves, or at least protect them from stinkiness,
rotted teeth, malnutrition, and exhaustion.
The problem is, nobody likes to be ordered around. A parent in one of my groups
put it succinctly: “Even if I want to do something, as soon as somebody tells me to do it,
I don’t want to do it anymore.”
I recently experienced this phenomenon of irresistible contrariness as an adult,
when I saw a stack of books at my local library with a note taped to the wall behind them.
The note read, do not touch these books. I presumed there was a reasonable explanation.
No doubt the books had not been put into the system yet. Still, I couldn’t help myself. I
veered toward the stack, stuck out my finger, and touched the books. “Hah, so there!” I
felt a spark of childish glee.
It’s human nature. We’re stuck with it, and our children are no different. We resist
being told what to do. Direct orders provoke direct opposition. When we give children
commands, we’re working against ourselves. Where we had hoped to inspire obedience,
we’ve just stirred up rebellion in their little hearts.
I like to start this workshop session with a few commands for the participants:
“Hey, you two in the back . . . No talking!”
“Don’t touch those books! Do you see your name on them?”
I toss in some blame and accusation:
“Who left this bag in the doorway? Someone’s going to trip on it.”
And on to some name calling:
“You forgot to bring a pencil again? You’re such an airhead.” “Don’t interrupt.
You’re being rude!”
A few warnings:
“Don’t balance your laptop on the edge of your knees like that. You’re going to drop
it.” “Don’t move the chairs while you’re on your cell phone. Pay attention to what you’re
doing or you’re going to hurt somebody.”
Some sarcasm:
“One blue sock and one green sock. Nice! Did you unplug your brain this
morning?”
A few rhetorical questions:
“Why do you keep your bag in such a mess that you can’t find anything?” “Why
can’t you wait your turn to speak?”
A threat:
“Listen, people, if these side conversations don’t stop immediately, we’re not
going to get through all the material and I’m going to have to keep you here for an extra
half hour.”
And of course, a lecture:
“You’re ten minutes late again. This is becoming a pattern with you. Do you realize
what happens when you’re late? You’re holding up the whole class. Everyone else made
the effort to get here on time. Some of us are paying babysitters so we can sit here waiting
for you. How would you feel if someone did that to you? You know, being punctual is a life
skill. And it’s a skill you better learn if you want to be successful in life. You need to start
making a little more effort. Get yourself organized ahead of time. Don’t leave everything
until the last minute.”
The group stares at me murderously. “So,” I force myself to ask cheerfully, “is
anyone feeling cooperative?”
The staring continues. I’m getting the silent treatment. I’m feeling a little uneasy,
so I try a different tack. “Do we really talk to kids this way?”
Finally someone speaks, “Sure we do!”
“Can anyone think of examples of what we actually say to children?”
Now the floodgates open. Here are some of the responses from the group.
Commands:
“Is that your bag? Well, pick it up. Now!” “Clean up those blocks.” “Stop making
that noise.” “Turn off the TV.” “Leave your brother alone.” “Wash your hands.” “Don’t touch
the stove.” “You just interrupted her. Say you’re sorry!”
Blaming and accusing:
“If you had screwed the top on the apple juice first instead of trying to grab the last
cupcake, it never would have spilled.”
Name calling:
“Hey, come help with this cleanup. You helped make the mess. Don’t be so lazy.”
“Your friends always share their toys when you visit them. Don’t be selfish.” “You’re
pulling the cat’s tail. That’s just plain mean.”
Warnings:
“Careful, you’re going to get hit by a car.” “Stop wiggling, you’ll fall off that stool.”
“You’ll make yourself sick if you eat all that candy.” “Watch it, you’ll burn yourself!” “Get
down from there, you’re going to fall!”
Sarcasm:
“You left your backpack at your friend’s house? That was smart.” “You knocked
down your little sister just so you could be first? That was nice.”
Rhetorical questions:
“Why would you pinch the baby like that?” “Why did you throw the ball in the
kitchen when I just told you not to?” “Is that what you’re supposed to be doing right now?”
“What is the matter with you?”
Lectures:
“It’s not nice to grab. You wouldn’t want anybody to grab something from you,
would you? Then you shouldn’t grab from anyone else. Nobody’s going to want to play
with you if you keep this up. You need to learn to be more patient.”
Threats:
“If you don’t put these toys away by the time I count to ten, I’m throwing them in
the garbage.” “If you don’t get in the car right now, I’m leaving without you.” “If you don’t
finish your vegetables there’ll be no dessert.” “If you don’t get your seat belt on and stop
fussing I’m not taking you anywhere.” “Get your helmet on now, or the bike is going back
in the garage.” The group was a little taken aback by their ability to compile such an
impressive list so easily. But they weren’t ready to throw out the entire arsenal.
Toni was the first to protest. “What you’re calling a threat, I call a consequence.
I’m just telling my child what will happen if he doesn’t listen. He needs to know!”
“It’s so tempting to toss in a threat,” I agreed. “It does seem kind of, umm,
informational. If you do this, I’ll do that. The problem with a threat is that it can come
awfully close to sounding like a dare.
When a parent says, ‘If you throw sand one more time, you’re going straight home!’ the
child doesn’t seem to hear the whole sentence. What the child seems to hear is, ‘Throw
sand . . . one more time!’ ”
The threat has become an irresistible challenge.
“What if you use the word please?” Sarah asked. “That’s simply good manners. I
tell my children what they need to do, but I say it politely.”
Sometimes, to soften the sting of an order, we toss in a please at the end. The
problem here is similar to that of wings on an ostrich. They seem like the right sort of
attachment, but nevertheless, that bird is not going to fly. It’s just too heavy. Please is best
reserved for standard etiquette like, “Please pass the salt.” When you “ask” a child to
please hold still . . . or get in his carseat . . . or put away his blocks . . . you’re not really
making a gentle request. You’re not truly willing to accept
“No thank you!” as an answer.
“If I started the session by telling you all to ‘Please sit still and stop talking,’ how many of
you would feel warm and cooperative?” I asked the group.
No one raised a finger.
Someone sighed. The feeling in the room was clear. Everything we say is wrong! It
was time to move on before these people got too frustrated with me and staged a
rebellion of their own. I plunged ahead.
“So what can we do when we need the cooperation of a small, illogical, and unruly
creature such as a human child? If we can’t tell him what to do, what’s left?”
Terjemahan - Bahasa Malaysia Tajuk buku: Bagaimana untuk bercakap dengan kanak-kanak supaya mendengar.
Penulis: Mark Manson
Penterjemah bahasa Melayu: Salina binti Che Leh @ Salleh
Bab Dua :
Cara-cara untuk mendapat kerjasama...meluahkan perasaan, penjagaan diri, Dia memberus gigi.
Menyuruh kanak-kanak melakukan apa yang mereka patut lakukan
Joanna
Cukuplah dengan semua perbincangan tentang perasaan. Senangnya mengetahui bahawa kita
meningkatkan keyakinan dan rasa dalam diri anak-anak kita, tetapi adakah itu sebenarnya
membuatkan kita melalui hari itu? Bukan kesemuanya. Kita perlu mendapatkan anak-anak kita
melakukan sesuatu - masuk ke tab mandi, memberus gigi, duduk diam-diam supaya saya boleh
memakaikannya kasut, naik ke dalam kerusi kereta..sekarang, atau kita akan terlambat, pergi
tidur, TOLONGLAH!
Dan kadang-kadang, lebih penting untuk tidak melakukan sesuatu - jangan memukul kakak
kamu; berhenti membuang makanan kamu; jangan menanggalkan kasut ketika saya baru
pakaikan; jangan mencucuk garpu kamu ke dalam soket elektrik; jangan makan lolipop yang
kotor; berhenti menarik ekor anjing, jangan memanjat peti sejuk- itu semuanya rak, bukan tempat
memanjat. Tidak berkesudahan merungut, memujuk meminta. Itulah realiti menjadi ibu bapa.
Jadi anak-anak kita diberitahu apa yang perlu dilakukan. Sepanjang hari. Itulah realiti menjadi
seorang kanak-kanak. Dan mereka harus mendengar, kerana kita bertanggungjawab dan kita
hanya cuba melakukan yang terbaik untuk mereka, dan menghalang mereka daripada membunuh
diri, atau sekurang-kurangnya melindungi mereka daripada bau busuk, gigi reput, kekurangan
nutrisi dan keletihan.
Masalahnya adalah, tiada siapa pun yang suka diperintahkan itu ini. Ada ibu bapa dalam salah
satu kumpulan saya meringkaskan dengan terang: " Walaupun saya mahu melakukan sesuatu,
sebaik sahaja seseorang menyuruh saya melakukannya, saya tidak lagi mahu melakukannya."
Saya baru-baru ini mengalami fenomena bertentangan yang tidak dapat tertahan sebagai seorang
dewasa. aabila saya mellihat timbunan buku-buku di perpustakaan setempat saya dengan nota
tertampal di dinding di belakang. Nota itu dibaca, jangan sentuh buku-buku ini. Saya
menganggap terdapat penjelasan munasabah. Tidak syak lagi buku-buku itu belum dimasukkan
ke dalam sistem. Namun, saya tidak dapat menahan diri. Saya melencong ke arah timbunan,
mengulurkan jari saya, dan menyentuh buku-buku itu. "Hah, tidak disangkal lagi!" Saya
merasakan bibit-bibit keseronokkan kebudak-budakan.
1
Itu adalah fitrah semulajadi manusia. Kita terjebak dengannya, dan kanak-kanak kita tiada
bezanya. Kita melawan disuruh melakukan sesuatu. Perintah langsung menimbulkan penentangan
langsung. Apabila kita memberi arahan kepada kanak-kanak, kita berlawanan dengan diri kita
sendiri. Di mana kita berharap untuk memberi inspirasi kepada ketaatan, kita baru sahaja
mencetuskan pemberontakan di dalam hati kecil mereka.
Saya suka memulakan sesi bengkel ini dengan beberapa arahan untuk peserta-peserta:
"Hei, kamu berdua di belakang..Jangan bercakap!"
"Jangan sentuh buku-buku itu! Adakah kamu melihat nama kamu pada buku-buku itu?"
Saya melemparkan beberapa kesalahan dan tuduhan.
"Siapa yang meninggalkan beg ini di muka pintu? Seseorang akan mengambilnya.
Dan pada beberapa nama panggilan:
"Kamu lupa membawa pensil lagi? Kamu memang kepala angin." "Jangan menyampuk.
Kamu seorang yang biadap!"
Beberapa amaran:
"Jangan seimbangkan komputer riba kamu di tepi lutu kamu seperti itu. Kamu akan
menjatuhkannya." "Jangan alihkan kerusi semasa kamu sedang bercakap di telefon. Tumpukan
perhatian kepada apa kamu sedang lakukan atau akan mencederakan seseorang."
Beberapa sindiran:
"Satu stokin biru dan satu stokin hijau. Cantik! Adakah kamu mencabut plag di otak kamu pagi
ini?"
Beberapa soalan retorik
"Mengapa kamu selalu membiarkan beg kamu bersepah-sepah sehingga tidak dapat mencari apaapa?" Mengapa kamu tidak boleh tunggu giliran kamu untuk bercakap?"
Satu ancaman:
"Dengar, semua orang, jika terdapat perbualan sampingan ini tidak berhenti serta-merta, kita tidak
akan melalui semua material dan saya terpaksa menyuruh anda berada di sini tambahan selama
setengah jam lagi."
2
Dan semestinya, satu syarahan:
"Kamu lewat lagi sepuluh minit. Ini menjadi tabiat kamu. Adakah kamu sedar apa yang berlaku
apabila kamu lambat? Kamu melambatkan seluruh kelas. Orang lain berusaha tiba di sini tepat
pada waktu. Sebahagian dari kita membayar upah pengasuh bayi supaya kita semua tunggu kamu.
Bagaiman perasaan kamu jika seseorang berbuat sedemikian kepada kamu? Kamu tahu, menepati
masa adalah satu kemahiran hidup. Dan ia adalah kemahiran yang lebih baik kamu pelajari jika
kamu ingin berjaya dalam kehidupan. Kamu perlu mula melakukan sedikit usaha. Pastikan diri
kamu teratur lebih awal. menuju masa. Jangan tinggalkan segala-galanya sehingga minit
terakhir."
Kumpulan merenung saya seakan-akan mahu membunuh. "Jadi, saya memaksa diri sendiri untuk
bertanya dengan ceria, "adakah sesiapa berasa ingin bekerjasama?"
Renungan berterusan. Saya mendapat layanan sunyi. Saya berasa sedikit tidak sedap hati, jadi
saya cuba jalan bertindak yang berbeza." Adakah kita benar-benar bercakap dengan kanak-kanak
sedemikian cara?" Akhirnya seseorang bercakap, "Benar kami lakukannya!"
"Bolehkan sesiapa memikirkan contoh-contoh apa sebenarnya kita katakan pada kanak-kanak?"
Sekarang situasi atau aktiviti baru berkembang dan menjadi sangat lazim. Di sini ada beberapa
respon dari kumpulan.
Perintah:
"Adakah itu beg kamu? Baiklah, tolong angkat. Sekarang!" "Bersihkan blok-blok itu. "Jangan
buat bising." "Tutup TV." "Jangan kacau abang kamu." "Basuh tangan kamu." "Jangan sentuh
dapur." "Kamu hanya mengganggunya. Katakan kamu minta maaf!"
Menyalahkan dan menuduh:
"Jika kamu mengetatkan penutup jus epal terlebih dahulu dan bukannya merebut kek cawan
terakhir, ia tidak mungkin tumpah."
Panggilan nama:
"Hey, tolong bersihkan ini. Kamu membuat sepah. Jangan malas sangat."
"Kawan-kawan kamu selalu kongsi mainan mereka apabila kamu melawat mereka. Jangan
pentingkan diri sendiri." "Kamu menarik ekor kucing itu. Sangat kejam."
Amaran:
"Berhati-hati, kamu akan dilanggar kereta." "Jangan merungut, kamu akan terjatuh dari bangku."
"Kamu jatuh sakit jika makan kesemua gula-gula itu." "Jaga-jaga, nanti kamu terbakar!". "Turun
3
dari situ, kamu akan jatuh!"
Sindiran:
"Kamu tinggalkan beg sandang di rumah kawan kamu? Bijaknya." "Kamu melanggar adik
perempuan kami supaya dapat jadi yang pertama? Bagus lah.
Soalan-soalan retorik
"Mengapa kamu cubit adik kamu sebegitu?" Mengapa kamu membaling bola ke dapur apabila
saya beritahu jangan berbuat begitu?" Adakah itu yang sepatutnya kamu lakukan sekarang?"
"Apa yang terjadi dengan kamu?"
Bersyarah:
"Tidak elok merentap. Kamu tidak mahu sesiapa merentap sesuatu dari kamu, bukan? maka kamu
tidak sepatutnya merebut dari orang lain. Tidak ada sesiapa pun hendak bermain dengan kamu
jika kamu terus berkelakuan begitu, Kamu perlu belajar menjadi lebih sabar."
Ancaman:
"Jika kamu tidak mengutip mainan-mainan ini sehingga saya kira sampai sepuluh, saya akan
membuangnya ke dalam tong sampah." Jika kamu tidak masuk ke dalam kereta sekarang, saya
akan tinggalkan kamu." "Jika kamu tidak menghabiskan sayuran, tiada pencuci mulut." "Jika
kamu tidak memakai tali pinggang keledar dan merengek, saya tidak akan membawa kamu ke
mana-mana." "Pakai topi keledar sekarang, atau motosikal masuk ke dalam garaj.." Kumpulan itu
sedikit terperajat dengan keupayaan mereka menyusun senarai yang impresif dengan mudah.
Tetapi mereka tidak bersedia membuang keseluruhan senjata.
Toni merupakan orang pertama memprotes. "Apa yang kamu panggil satu ancaman, saya panggil
akibatnya. Saya memberitahu anak saya apa yang akan berlaku jika dia tidak mendengar. Dia
perlu mengetahuinya!"
"Ia sangat menggoda melempar ancaman" Saya bersetuju." Nampaknya macam, umm,
berinformasi. jika kamu melakukan ini, saya akan melakukan itu. Masalah dengan ancaman
adalah ia boleh menjadi sangat dekat dengan bunyi seperti berani.
Apabila ibu bapa berkata, "Jika kamu membaling pasir sekali lagi, kamu terus balik rumah!"
kanak-kanak seolah-olah tidak mendengar keseluruhan ayat. Apa yang kanak-kanak dengar,
"Baling pasir..sekali lagi!"
Ancaman menjadi satu cabaran yang tidak dinafikan.
"Bagaimana kalau kamu menggunakan perkataan tolong?" Sarah bertanya. "Itu adab yang baik.
4
saya beritahu anak-anak saya apa mereka patut lakukan, tetapi saya katakannya dengan sopan."
Kadang kala, bagi melembutkan arahan yang meyakitkan, kita menambah tolong di pengakhiran.
Masalah di sini serupa dengan sayap burung unta. Mereka kelihatan seperti lampiran yang betul,
tetapi bagaimanapun, burung itu tidak akan terbang,. Ia terlalu berat. Sila, tolong adalah cara
terbaik bagi etika standard seperti, "Tolong hulurkan garam." Apabila anda "bertanya" kanakkanak tolong pegang betul-betul...atau duduk di kerusi kereta ...atau buang blok-bloknya...kamu
tidak benar-benar membuat permintaan mesra. Kamu tidak ikhlas sanggup menerima.
"Terima kasih saja!" sebagai satu jawapan.
"Jika saya memulakan sesi dengan memberitahu anda semua "Sila kekal di tempat duduk dan
jangan bercakap,' berapa ramai dari kamu berasa lega dan bekerjasama?" saya bertanya kepada
kumpulan.
Tiada seorang pun mengangkat jari.
Seseorang mengeluh. Perasaan di dalam bilik ini jelas. Semuanya kita katakan adalah salah! Masa
untuk terus ke hadapan sebelum mereka menjadi amat kecewa dengan saya dan menunjukkan
pemberontakkan diri mereka. Saya terus melakukan sesuatu dengan keazaman.
"Jadi apa boleh kita lakukan apabila kita memerlukan kerjasama dari ciptaan kecil, sukar dikawal,
tidak logik seperti kanak-kanak? Jika kita tidak dapat memberitahunya apa perlu dilakukan, apa
lagi yang tinggal?
TAMAT
More
Less
Pendidikan terjemahan
Graduate diploma - Malaysian Translators Association
Pengalaman
Tahun pengalaman terjemahan: 3. Didaftar di ProZ.com: Jan 2024.
Bahasa Inggeris hingga Bahasa Malaysia (Malaysian Translators Association, verified) Bahasa Malaysia hingga Bahasa Inggeris (Institut Terjemahan & Buku Malaysia / Malaysian Institute of Translation & Books, verified)
Keahlian
N/A
Perisian
Google Docs, Google Sheets, MateCat, Microsoft 365, Smartcat
and structuring complex bilingual document suites for Malaysian High Court Judicial Review
proceedings.
I demonstrate absolute operational au fait over premium standard of Pernyataan (Statement), Afidavit Sokongan (Afidavit-in-Support) and Permohonan ex-parte (ex-parte Application-Exhibits integration) in accordance Order 53 procedural Rules of Court 2012 frameworks, alongside active familiarity with the eCourt filing process and specific nature-of-case classification codes. Operating strictly within verified fields of expertise-including General Law, all classifications under Non-Scientific and Non-Technical excluding Creative, Advertising and IT. I offer corporate language service providers elite precision, rigorous confidentiality, and robust translation volume capacity.
Kata kunci: PROLIFIC LINGUIST, General Legal Translation & Case Prep | Firsthand Order 53 Rules of Court 2012 Malaysia Judiciary e-filing Experience | Strict Offline No-AI Workflow, Non-Technical, Non-Scientific, Proofreading, Localization.